Selasa, 25 Oktober 2011

ASKEP Hidrosefalus


A. PENGERTIAN 
Hidrosefalus adalah keadaan penimbunan cairan serebrospinal dalam rongga intra cranial yang ditandai dengan pembesaran kepala pada bayi dan anak kecil ( Nelson, 1993 ).

B. ANATOMI FISIOLOGI ( Silvia A Price, 1995 )
Ruangan cairan serebrospinalis mulai terbentuk pada minggu ke lima masa embrio, yang terdiri atas sistem ventrikel, sisterna magna pada dasar otak dan ruang subaraknoid yang meliputi seluruh susunan saraf. Cairan serebrospinal yang dibentuk dalam ventrikel oleh pleksus koroidalis kembali dalam peredaran darah melalui kapiler dalam piameter dan araknoid yang meliputi susunan saraf pusat. Hubungan antara sistem ventrikel dan ruang araknoid tersebut melalui foramen magendie di median dan foramen luschka disebelah ventrikel ke IV.


C. PEMBAGIAN / TIPE
Hidrosefalus dibedakan atas dua tipe :
1. Hidrosefalus Obstruktif
    Dikatakan hidrosefalus obstruktif bila tekanan cairan serebrospinalis yang meningka
    disebabkan karena adanya obstruksi pada salah satu tempat pembentukan cairan
    serebrospinalis.
2. Hidrosefalus Komunikans
    Bila tekanan cairan serebrospinalis meningkat tanpa adanya penyumbatan pada sistem
    ventrikel.

D. ETIOLOGI
Penyebab sumbatan pada aliran cairan serebrospinalis yang sering terdapat adalah kelainan bawaan , infeksi, neoplasma dan perdarahan.
1. Kelainan bawaan
    a. Stenosis akuaduktus sylvii
        Merupakan penyebab terbanyak pada bayi dan anak
    b. Spina bifida dan kranium bifida
        Berhubungan dengan sindrom Arnold – Chiari akibat tertariknya medula spinalis dengan
        medula oblongata dan serebelum letaknya lebih rendah sehingga menutupi foramen
        magnum.
   c. Sindrom Dandy – Walker
   d. Kista araknoid
   e. Anomali pembuluh darah

2. Infeksi
Akibat adanya infeksi menimbulkan perlekatan meningen sehingga dapat terjadi obliterasi
subaraknoid.

3. Neoplasma
4. Perdarahan


E. PATOFISIOLOGI



F. GEJALA KLINIK
1. Early Infant
  • Pertumbuhan kepala yang tidak normal
  • Fontanel menonjol Vena di kepala melebar
  • Sutura melebar
  • Pada palpasi terdengar bunyi " Cracked- pot "
  • Dahi menonjol

2. Later Infant
  • Pembesaran Frontal
  • Penekanan Mata ( Sunset sign )
  • Gerakan Bola Mata tidak teratur
  • Pupil terlambat berespon terhadap cahaya


3. Infant
  • Irritability
  • Lethargy
  • Menangis bila diletakkan terbaring
  • Reflek awal anak timbul
  • Bila cepat berkembang, Hidrocephalus dapat menyebabkan :
          - Sulit minum atau menelan
          - Menagis nyaring, Singkat, Melengking
          - Emesis
          - Somnolen
          - Kejang
          - Cardio Pulmonari yang membingungkan

4. Childhhood
  • Headache /Nyeri kepala saat bangun
  • Emesis
  • Edema pupil
  • Strabismus
  • Tanda Ekstrapiramidal : ataxsia
  • Irritable
  • Letargy, Apatis
  • Bingung


G. PENATALAKSANAAN MEDIS


Ada tiga prisip pengobatan :
1 Mengurangi produksi cairan Serebro Spinalis
2 Memperbaikihubungan tempat produksi cairan serebrospinalis dan tempat absorbsi
3 Pengeluaran cairan serebrospinalis ke dalam organ ekstrakranial dengan pilihan

Tindakan :
a. Shunt/ drainase Ventrikulo peritoneal
    - Mengalihkan cairan serebrospinalis dari ventrikel lateral atau sub arachnoid ke rongga
       peritoneal
    - Tube/ slang dipasang dari ventrikel lateral ke lobang burr occipital secara subcutan terus ke
       leher dan ke daerah spinal dan terus ke rongga peritoneal dengan membuat insisi kecil
       dibawah kwadran bawah sebelah kanan
    - Tekanan katub satu arah dan sangat peka terhadap peningkatan tekanan intrakranial
    - Cara ini adalah cara yang mendekati sempurna karena lebih mudah, komplikasinya rendah
       serta mudah untuk melakukan perbaikan atau revisi bila terjadi penyumbatan. Cairan
       dialirkan dari tempat steril ke rongga yang steril juga.
b. Shunt/ drainase Ventrikulo pleural
    - Tube/slang dipasang dari ventrikel lateral yang besar ke lobang burr yang di daerah parietal
      dari tengkorak
    - Kemudian di pasang dibawah kulit dibelakang telinga dan kemudian masuk ke vena Kava
      Superior dan selanjutnya masuk ke atrium kanan
   - Tekanan katup searah, yang peka dan akan tertutup untuk mencegah reflux darah ke dalam
      ventrikel dan akan terbuka saat tekanan ventrikel naik, sehingga serebrospinalis lewat dan
      masuk ke dalam aliran darah.
c. Shunt/drainase Ventrikulo atrial
   - mengalihkan cairan serebro spinalis ke rongga pleural
   - Indikasi pada saat ventrikulo peritoneal Shunt atau ventrikulo atrial shunt tidak dapat
     digunakan

ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
    a. Biodata : Terjadi pada bayi dan anak
    b. Riwayat Kesehatan
       1) Prenatal: Adanya infeksi intra Uterin/ Kongenital
       2) Post Natal : Perdarahan, Neoplasma.
   c. Pemeriksaan Fisik
      1) Masa bayi :
          - kepala membesar , Fontanel Anterior menonjol, Vena pada kulit kepala dilatasi dan
            terlihat jelas pada saat bayi menangis, terdapat bunyi Cracked- Pot ( tanda macewen ),
            Mata melihat kebawah (tanda setting – sun ) , mudah terstimulasi, lemah, kemampuan
            makan kurang, perubahan kesadaran, opistotonus dan spatik pada ekstremitas bawah
         - pada bayi dengan malformasi Arnold- Chiari, bayi mengalami kesulitan menelan, bunyi
            nafas stridor, kesulitan bernafas, Apnea, Aspirasi dan tidak reflek muntah.
      2) Masa Kanak-Kanak
          - Sakit kepala, muntah, papil edema, strabismus, ataxsia mudah terstimulasi , Letargy,
            Apatis, Bingung, Bicara inkoheren.
  d. Pemeriksaan Diagnostik
      1) Lingkar Kepala pada masa bayi
      2) Translumiasi kepala bayi, tampak pengumpulan cairan serebrospinalis yang abnormal
      3) Perkusi pada tengkorak bayi menghasilkan "suara khas"
      4) Opthalmoscopi menunjukan papil edema
      5) CT Scan
      6) Foto Kepala menunjukan pelebaran pada fontanel dan sutura serta erosi tulang intra
          kranial
      7) Ventriculografi ( jarang dipakai ) : Hal- hal yang Abnormal dapat terlihat di dalam sistem
          ventrikular atau sub - arakhnoid
  e. Perkembangan Mental/ Psikososial
      - Tingkat perkembangan
      - Mekanisme koping
      - Pengalaman di rawat di Rumah Sakit
  f. Pengetahuan Klien dan Keluarga
     - Hidrosephalus dan rencana pengobatan
     - Tingtkat pengetahuan

2. Diagnosa Keperawatan ( Suriadi , 2001 ; 140 ),( Greenberg, 1998 )
    a. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan meningkatnya volume cairan
        serebrospinal, meningkatnya tekanan intra kranial
    b. Resiko injuri berhubungan dengan pemasangan shunt
    c. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan adanya tindakan untuk mengurangi
        tekanan intra kranial, meningkatnya tekanan intra kranial
    d. Resiko infeksi berhubungan dengan efek pemasangan shunt
    e. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan kondisi yang mengancam kehidupan
        anak
    f. Antisipasi berduka berhubungan dengan kehilangan anak


3. Perencanaan
    a. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan meningkatnya volume cairan
        serebrospinal meningkatnya tekanan intra kranial
        1) Tujuan : Perfusi jaringan serebla adequat
        2) Kriteria Evaluasi :
            - Tanda Neurologis stabil (Tidak ada kejang , Tidak ada Pusing , )
            - Perdarahan
            - Cairan Serebro Spinal Lancar
        3) Intervensi :
            - Observasi tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial
            - Kaji data dasar neurologi
            - Hindari pemasangan infus pada vena kepala jika terjadi pembedahan
            - Tentukan posisi anak : a. tempatkan pada posisi terlentang
                                                 b. tinggikan kepala
            - hindari penggunaan obat-obat penenang
            - Jangan pernah memompa shunt untuk mengkaji fungsi dari shunt
            - Ajarkan keluarga tanda-tanda peningkatan tekanan intra kranial

b. Resiko tinggi untuk terjadinya infeksi sehubungan dengan penggunaan system pengairan (
    pemasangan shunt ) dan proses pembedahan
    1) Tujuan : Klien tidak mengalami infeksi
    2) Kriteria Evaluasi :
        - Suhu, Nadi dalam batas Normal
        - Tidak ada Oedema , Tidak ada Nyeri, Tidak ada kemerahan
    3) Intervensi :
        - Kaji tanda-tanda infeksi, muntah, respon dan aktifitas
        - Berikan antibiotik sesuai anjuran
        - Perhatikan daerah sekitar insisi untuk menghhindari kebocoran
        - Gunakan tekhnik aseptik dalam merawat luka
        - Perhatikan kebersihan anak

c. Resiko tinggi terjadinya kerusakan integritas kulit/ Injuri sehubungan dengan penekanan
    dan ketidakmampuan untuk menggerakkan kepala
    1) Tujuan : Klien akan menunjukan integritas kulit yang baik
    2) Intervensi :
        - Berikan perawatan kulit
        - Laporkan segera bila terjadi perubahan tanda-tanda vital ( atau tingkah laku )
        - Monitar daerah sekitar operasi terhadap adanya tanda-tanda kemerahan atau
           pembengkakan
        - Pertahankan terpasangnya kondisi shunt tetap baik, jika kondisi shunt yang tidak baik,
           maka segera untuk berkolaborasi untuk pengangkatan atau penggantian shunt
       - Lakukan pemijatan pada selang shunt untuk menghindari sumbatan pada awalnya.

d. Kurangnya pengetahuan keluarga sehubungan dengan kurang informasi tentang keadaan
    yang krisis
    1) Tujuan : Keluarga klien akan menerima support dengan adekuat
    2) Kriteria Hasil :
        - keluarga menerima keadaan anaknya
        - terlihat memberikan dukungan selama perawatan
        - dapat mendeteksi tanda resiko tinggi
    3) Intervensi :
        - Jelaskan kepada keluarga bahwa mereka sangat berarti bagi perawat
        - Jelaskan kegiatan rutin yang akan dilakukan kepada anak
        - Jelaskan dimana mereka dapat bertanya atau mendapat sesuatu untuk memenuh
           kebutuhan anak
        - jelaskan tentang penyakit, tindakan dan prosedur yang akan dilakukan
        - Berikan kesempatan pada orang tua atau anggota keluarga untuk mengekspresikan
           perasaan
        - Berikan dorongan pada orang tua untuk membantu perawatan anak


4. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan keperawatan anak dengan hydrosefhalus didasarkan pada rencana yang telah ditentukan dengan prinsip :
    a. Mempertahankan perfusi jaringan serebral tetap adequat
    b. Mencegah terjadinya injuri dan infeksi
    c. Meminimalkan terjadinya persepsi sensori
    d. Mengatasi perubahan proses keluarga dan antisipasi berduka


5. Evaluasi
Setelah tindakan keperawatan dilaksanakan evaluasi proses dan hasil mengacu pada kriteria evaluasi yang telah ditentukan pada masing-masing diagnosa keperawatan sehingga :
   - masalah teratasi atau tujuan tercapai
   - masalah teratasi atau tercapai sebagian
   - masalah tidak teratasi / tujuan tidak tercapai



DAFTAR PUSTAKA


Donna, L. Wong, ( 1990 ), Clinical Manual of Pedriatric Nursing, The CV Mosby Company, Toronto

Greenbeng, C S ( 1998 ), Nursing Care Planning Guides for Children, Williams & Williams Sydney

Nelson, ( 1992 ) , Ilmu Kesehatan Anak, EGC, Jakarta

Price, Sylvia, ( 1995 ), Patofisiologi, EGC, Jakarta

Suriadi & Rita Y ( 2001 ), Asuhan Keperawatan Anak Edisi I, CV Agung Seto, Jakarta