Kamis, 06 Oktober 2011

ASKEP Hipertiroidisme

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN HIPERTIROIDISME


A.  Definisi

Hipertiroid adalah suatu ketidakseimbangan metabolik yang merupakan akibat dari produksi hormon tiroid yang berlebihan. (Dongoes E, Marilynn , 2000 hal 708)
Terdapat dua tipe hipertiroidisme yaitu penyakit graves dan goiter nodular toksik. (Price A, Sylvia, 1995 hal 1074)






B.  Etiologi
Penyebab-penyebabnya antara lain:
1.   Herediter
2.    Toksik Adenoma
3.    Tumor kelenjar hipofise
4.    Tiroiditis sub akut
5.    Kanker tiroid
6.    Terapi  hormon tiroid berlebihan
     (Price A, Sylvia, 1995, hal 1074 dan Dongoes E, Marilynn , 2000 hal 708)

C.  Faktor resiko
1.       Terjadi lebih banyak pada wanita dari pada laki-laki
2.       Pada usia lebih dari 50 tahun
3.       Post trauma emosional
4.       Peningkatan stress
(Long C, Barbara 1996 hal 109)

D.  Manifestasi klinis
   Apatis
   Mudah lelah
   Kelemahan otot
   Mual
   Muntah
   Gemetaran
   Kulit lembab
   Berat badan turun
   Takikardi
   Mata melotot, kedipan mata berkurang
(Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 1319 dan  Price A, Sylvia, 1995, hal 1076)
  

E. Patofisiologi
Penyebab hipertiroidisme biasanya adalah penyakit graves, goiter toksika. Pada kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai tiga kali dari ukuran normalnya, disertai dengan banyak hiperplasia dan lipatan-lipatan sel-sel folikel ke dalam folikel, sehingga jumlah sel-sel ini lebih meningkat beberapa kali dibandingkan dengan pembesaran kelenjar. Juga, setiap sel meningkatkan kecepatan sekresinya beberapa kali lipat dengan kecepatan 5-15 kali lebih besar daripada normal.

Pada hipertiroidisme, kosentrasi TSH plasma menurun, karena ada sesuatu yang “menyerupai” TSH, Biasanya bahan – bahan ini adalah antibodi immunoglobulin yang disebut TSI (Thyroid Stimulating Immunoglobulin), yang berikatan dengan reseptor membran yang sama dengan reseptor yang mengikat TSH. Bahan – bahan tersebut merangsang aktivasi cAMP dalam sel, dengan hasil akhirnya adalah hipertiroidisme. Karena itu pada pasien hipertiroidisme kosentrasi TSH menurun, sedangkan konsentrasi TSI meningkat. Bahan ini mempunyai efek perangsangan yang panjang pada kelenjar tiroid, yakni selama 12 jam, berbeda dengan efek TSH yang hanya berlangsung satu jam. Tingginya sekresi hormon tiroid yang disebabkan oleh TSI selanjutnya juga menekan pembentukan TSH oleh kelenjar hipofisis anterior.

Pada hipertiroidisme, kelenjar tiroid “dipaksa” mensekresikan hormon hingga diluar batas, sehingga untuk memenuhi pesanan tersebut, sel-sel sekretori kelenjar tiroid membesar. Gejala klinis pasien yang sering berkeringat dan suka hawa dingin termasuk akibat dari sifat hormon tiroid yang kalorigenik, akibat peningkatan laju metabolisme tubuh yang diatas normal. Bahkan akibat proses metabolisme yang menyimpang ini, terkadang penderita hipertiroidisme mengalami kesulitan tidur. Efek pada kepekaan sinaps saraf yang mengandung tonus otot sebagai akibat dari hipertiroidisme ini menyebabkan terjadinya tremor otot yang halus dengan frekuensi 10-15 kali perdetik, sehingga penderita mengalami gemetar tangan yang abnormal. Nadi yang takikardi atau diatas normal juga merupakan salah satu efek hormon tiroid pada sistem kardiovaskuler. Eksopthalmus yang terjadi merupakan reaksi inflamasi autoimun yang mengenai daerah jaringan periorbital dan otot-otot  ekstraokuler, akibatnya bola mata terdesak keluar.


F.   Pemeriksaan Penunjang
1.    Tes ambilan RAI: meningkat pada penyakit graves dan toksik goiter noduler, menurun pada tiriditis
2.    T3 dan T4 serum : meningkat
3.    T3 dan T4 bebas serum : meningkat
4.    TSH: tertekan dan tidak berespon pada TRH ( tiroid releasing hormon)
5.    Tiroglobulin : meningkat
6.  Stimulasi tiroid 131 : dikatakan hipertiroid jika TRH daritidak ada sampai meningkat setelah pemberian TRH
7.    Ambilan tiroid 131 : meningkat
8.    Ikatan protein sodium : meningkat
9.    Gula darah : meningkat ( kerusakan adrenal)
10.  Kortisol plasma : turun ( menurunnya pengeluaran oleh adrenal)
11.  Pemerksaan fungsi hepar : abnormal
12.   Elektrolit : hponatremi akibat respon adrenal atau efe delusi terapi cairan, hipokalemia akibat dari deuresis dan kehilangan dari GI
13.   Kateklamin serum : menurun
14.   kreatinin urin : meningkat
15.   EKG : fibrilasi atrium, waktu sistolik memendek kardiomegali

(DoengesE, Marilynn,2000 hal 711)


G. Penatalaksanaan
1.         Pengobatan jangka panjang dengan obat-obat antitiroid seperti propiltiourasil atau metimazol yang diberikanpaling sedikit selama satu tahun. Obat – obat ini menghambat  sintesis dan pelepasan tiroksin.
2.         Pembedahan tiroideksomi sub total sesudah terapi propiltiourasil prabedah
3.         Pengobatan dengan yodium radioaktif
       (Price A, Sylvia, 1995, hal 1076)

H.Komplikasi

 Penyakit jantung
 Gagal ginjal kronis
 Fraktur
 Krisis tiroid
(Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 1319)

I. Pengkajian
1. Aktivitas dan istirahat
Data Subyektif:
-          Insomnia, sensitivitas meningkat
-          Otot lemah, gangguan koordinasi
-          Kelelahan berat
Data obyektif:
-          Atrofi otot
2. Sirkulasi
Data Subyektif:
-          Palpitasi
-          Nyeri dada
Data obyektif:
-          Disritmia (fibrilasi atrium), irama  galop, murmur
-          Peningkatan tekanan darah, takikardi saat istirahat
-          Sirkulasi kolaps

3. Integritas ego
Data Subyektif:
-          Mengalami stress yang berat baik emosional maupun fisik
Data obyektif:
-          Emosi labil (euforia sampai delirium), depresi
4. Eliminasi
Data Subyektif:
-          Urin dalam jumlah banyak
-          Perubahan dalam feses : diare
5. Makan/ minum
Data Subyektif:
-          Kehilangan BB yang mendadak
-          Nafsu makan meningkat, makan banyak, makan sering, kehausan. Mual muntah
Data obyektif:
-          Pembesaran tiroid, goiter
-          Edema non pitting terutama daerah pretibial
6. Sensori neural
Data obyektif:
-          Bicara cepat dan parau
-          Ganggguan status mental dan perilaku seperti bingung, disorentai, gelisah, peka rangsang, delirium, sikosis, stupor,koma
-          Tremor halus pada tanan, tanpa tujuan, beberapa bagian tersentak-sentak
-          Hiperaktif reflekstenon dalam (RTD)
7. Nyeri / kenyamanan
Data Subyektif:
-          Nyeri orbital, fotofobia
8. Respirasi
Tanda:
-          Frekuensi pernapasan meningkat, takipnea
-          Dispnea

9.Keamanan
Data subyektif:
-         Tidak toleransi terhadap panas, keringat berlebihan
-         Alergi terhadapiodium 9 mungkin digunakan pada pemeriksaan)
Data obyektif:
 Suhu meningkat diatas 37,4 C, diaforesis
 Kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus
 Eksoptalmus: retraksi, iritas pada kinjungtiva dan berair. Pruritus, lesi eritema ( sering terjadi pada pretibial yang menjadi sangat parah
10. Seksualitas
       Data obyektif;
 Penurunan libido, hipomenorea, amenorea dan impoten
11. Penyuluhan/ pembelajaran
Subjektif Data  :
-          Riwayat keluarga yang mengalami masalah tiroid
-           Riwayat hipotiroidis, terapi hormontiroid atau pengobatan antitiroid, dihentikan terhadap pengobatan antitiroid, dilakukan pembedahan tiroidektomi sebagian
-          riwayat pemberian insulin yang menyebabkan hipoglikemia, gangguan jantung trauma, pemeriksaan rontgen dengan zat kontras
(DoengesE, Marilynn,2000 hal 708 -709)

J. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung b.d hipertiroid tidak terkontrol,hipermetabolisme, peningkatan beban kerja jantung
Tujuan  Pasien / criteria evaluasi ;
-          mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh yang ditandai dengan TTV stabil, denyut nadi perifer normal, pengisian kapiler normal, status mental baik,tidak ada disritmia
Intervensi :
Independen
-          Pantau TTV. Perhatikan besarnya tekanan nadi
-          Periksa /teliti kemungkinan nyeri dada yang dikeluhkan pasien
-          Kaji nadi/denyut jantung saat pasien tidur
-          Auskultasi suara jantung, perhatikan adanya bunyi jantung tambahan, adanyairamagallop dan murmur sistolik
-          Pantau EKG, catat atau perhatikan kecepatan atu irama jantung dan adanya disritmia
-          Observasi tanda dan gejala kehausan yang hebat, mukosa membran kering, nadilemah, pengisian kaapiler lambat, penurunan produksi urin dan hipotensi
-          Catat adnya riwayat asma/bronkokontriksi, kehamilan,sinus bradikardi/blok jantung yang berlanjut menjadi gagal jantung
Kolaborasi
-          Berikan cairan melalui IV sesuai indikasi
-          Berikan obat sesuai dengan indkasi:
a.       Penyekat beta seperti: propanolol (inderal0, atenolol (tenormin), nadolol (corgard)
b.      Hormon tirid antagonis seperti propiltirourasil (PTU), metimazol (tapazole)
c.       Natriun iodida (lugol) atau saturasi kalium iodida
d.      RAI (131 InaL atau 125 InaL)
e.       Kortikosteroid
f.        Digoksin
g.       Furosemid
h.       Asetaminofen
i.         Relaksan otot
-          Pantau hasil pemeriksaan lab : kalium serum, kalsium serum,kultur sputum
-  Lakukan pemantauan EKG secara teratur
-  Berikan oksigen sesuai indikasi
-  Siapkan untuk pembedahan


2. Kelelahan b.d hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi,peka rangsang dari saraf sehubungan dengan gangguan kimia tubuh
Dibuktikan oleh :
-          Mengungkapkan sangat kurang kekurangan  energi untuk mempertahankan utinitas umum, penurunan penampilan
-          Labilias/pekarangsang emsional, gugup, tegang
-          Perilaku gelisah
-          Kerusakan kemampuan untuk konsentrasi
Tujuan Pasien / criteria evaluasi ;
-          Menungkapkan secara verbal tentang peningkatan energi
-          Menunjukkkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam melakukan aktivits

Intervensi

Independen
-          Pantau TTV sebelum dan sesudah aktivitas
-          Catat perkembangan takipnea, dispnea, pucat dan sianosis
-          Ciptakan lingkungan yang tenang, ruangan yang dingin, turunkan stimulasi sensori, warna-warna yang sejuk dan situasi yang tenang
-          Sarankan pasien untuk mengurangi aktivitas dan meningkatkan istirahat ditempat tidur jika memungkinkan
-          Berikan tindakan yang membuat pasien nyaman seperti masage/sentuhan, bedak yang sejuk
-          Memberikan aktivits pengganti yang nyaman seperti membaca, mendengarkan radio
-          Hindari membicarakan topik yang menjengkelkan atau yang mengancam pasien. Diskusikan cara untuk berspon terhadap perasaan tersebut
-          Diskusikan dengan orang dekat tentang  keadaan kelelahan dan emosi yang tidak stabil
Kolaborasi
-          Berikan obat  sesuai indikasi sseperti sedatif : fenobarbital (luminal)


3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d peningkatanmetaboisme ( peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan penururunan BB)
Tujuan pasien / criteria evaluasi
-          Menunjukkkan BB yang stabil disertai dengan nilai laboratorium yang normal dan terbebas dari tanda-tanda malnutrisi

Intervensi

Independen
-          Auskultasi bising usus
-          Catat dan laporkan adanyaanoreksia, kelemahan umum/nyei,nyeri abdomen, munculnya mual-muntah
-          Pantau masukan makanan setiap hari. Dan timbang bb setipa hari serta laporkan adanya penurunan BB
-          Dorong pasien untuk makandan meningkatkan jumlah makan dan juga makanan kecil dengan menggunakan makanan tinggi kalori yang mudah dicerna
-          Hindari pemberian makananyang dapat meningkatkan peristaltik usus (eh, kopi dan makanan berserat lainnya ) dan cairan yang menyebabkan diare
-          Bicara  dengan nada normal
Kolaborasi :
-          Konsul  dengan ahli gizi untuk memberikan diet tinggi kalori, protein, karbohidart dan vitamin
-          Berikan obat dengan indikasi:
a.       glukosa,vit B kompleks
b.      Insulin (dengan dosis kecil)

4. Kerusaka integritas jaringan mata b.d perubahan mekanisme perlindungan dari mata
Tujuan / criteria hasil :
-          Dapat mempertahakan kelembaban membran mukosa mata, terbebas dari ulkus
-          Mampu mengidentifikasi tindakan untuk memberkanperlindungan pada mata dan pencegahan komplikasi
Intervensi
Independen
-          Observasi edema peiorbital, gangguan penutupan kelopakmata. Lapang pandang penglihatan yang sempit, air ata yang berlebihan. Catat adanya fotofobia, rasa adanya benda diluar mata dan nyeri pada mata
-          Evaluasi ketajaman mata, laporkan adanya pandangan yang kabur atau pandangan ganda( diplopia)
-          Anjurkan pasien menggunakan kaca mata gelap ketika bangaundan tutup dengan peneutup mata selamatidur sesuai kebutuhan
-          Bagian kepala tempat tidur ditinggikan dan batasi pemasukan garam jika ada indikasi
-          Berikan kesempatan pasian untuk mendiskusokan perasaaan tentang perubahanganbaran atau betuk tubuh untuk meningkatkan gambanran tubuh
-          Instruksikan agar pasien melatih otot mata ekstraokular jika memungkinkan
Kolaborasi
-         berikan obat sesuai indikasi
a.       obat tetes mata metilselulosa
b.      ACTH, prednison
c.       Obat antitiroid
d.      Diuretik
-         Siapkan pembedahan

5. Cemas b.d faktor fisiologis, status hipermetabolik (stimulasi SSP), efek pseudokatekolamin dari hormon tiroid
Ditandai dengan :
-         Peningkatan perasaan kuatir, gemetar, hilang konrol, panik, perubahan kognitif, distosi rangsanglingkungan
-         Gerakan ekstra, gelisah, tremor
Kriteria hasil:
-         Tampak rileks
-         Melapokan ansietasberkurang sampai tingkat dapt dilatasi
-         Mampu mengidentifikasi cara hidup yang sehat untuk membagikan perasaannya
Intervensi:
Mandiri
-         Observasi tingkah laku pasien yang menunjukkan tingkat ansietas
-         Pantau respon fisik, papitsi, gerakan yang berulang-ulang, hiperventilasidan insomnia
-         Tinggal bersama pasien, mempertahankan sikap yang teang. Mngakui atau menjawab kekuatiran dan mengijinkan perilaku pasien yang umum
-         Jelaskan prosedur, lingkungan sekelilmn atau suara yang mungkindidengar oleh pasien
-         Bicara yang singkat dengan kata yang sederhana
-         Kurangi stimulasidari luar. Tempatkan pada ruangan yang tenang, berikan kelembutan, kurangi lampu yang terang, kurangi jumlah orang yang berkunjuang
-         Diskusikan dengan pasien aau orang yang terdekat penyebab emosional yang labil/reaksi psikotik
-         Tekankan harapan bahwa pengendalian emosi itu harus tetap diberikan sesuai denagan perkembangan terapi obat
Kolaborasi;
-         Berikan obat antiansietas
-         Rujukpada sistem penyokong sesuai dengan kebutuhan seperti konseling, ahli agama dan pelayanan sosial

6. Perubahan prossespikir b.d perubahan fisiologis, peningkatan stimulasi SSP/mempercepat aktivitas mental
Kriteria hasil:
-         Mempertahankan orientasi realita umumya
-         Mengenali perubahan dalam berpikir/perilaku dan faktor penyebab
Intervensi:
-         Kaji proses pikir pasienseperti memori, rentang perhatian, orientasi terhadap tempat, waktu atauorang
-         Catat adanya perubahan tingkahlaku
-         Hadirkan pada realita secara terusmenerus dansecara gamblang tanpa melawan pikiran yang tidak logis
-         Memberikan tindakan yang aman seperti bantalan pada enghalang tempat tidur, pengikatan yang lembutsupervisi yang ketat
-         Anjurkan keluarga atau orang dekat lainnnya untuk mengunjungi paisen. Memberikan dukungan dengan kebutuhan
Kolaborasi
Pemberian sedatif ssesuai indikasi

7.       Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
Ditandai dengan:
-         Pertanyaan, meminta informasi
Kriteria evaluasi:
-         Pasien mengerti tentang proses penyakit dan pengobatannya
-         Mengidentifikasi hubungan antara tanda dan gejalapada prosses penyakit dan hubungan gejala dengan faktor penyebabnya
Intervensi;
-         Berikan informasi yang tepat dengan keadaan individu
-         Berikan informasi tanda dan gejala dari hipertiroid
-         Diskusikan mengenai terapi obat termasuk ketaatan terhadap pengobatan dan tujuan terapi
-         Tinjau kebutuhan diiit makanan dan tinjau ulang mengenai nutrisi . Mdnghindari kopi, makanan pengawet dan makanan pewarna

Kolaborasi:
-         Pemberian anti emetikdengan jadwal reguler
-         Vitamin A,D,E dan B6
-         Rujuk ahli diit
-         Pasang /pertahankan slang NGT untuk pemberian makanan enteral
(Doenges E, Marilynn, 2000 hal 710-719)
 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Jilid 3, Bandung, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996
  2. Price A, Sylvia dan Wilson M, Lorraine, Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 4, Buku II, Jakarta, EGC,1995
  3. Hudak & Gallo, Keperawatan Kritis: Pendekaatan Holistik, Edisi 6, Volume II, Jakarta, EGC,1996
4.   Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth,   Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Jilid 3, Jakarta, EGC ,2002
 5.   Marilynn E, Doengoes, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta,  EGC, 2000