Senin, 12 Desember 2011

Cara Mengkaji Status Mental Pada Lansia / Manula

I. PENDAHULUAN

Populasi penduduk lanjut usia ( lansia ) di Indonesia saat ini khususnya yang berusia diatas 60 tahun mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pada tahun 2005 – 2010 diperkirakan jumlah lansia adalah 8,5 % dari jumlah seluruh penduduk Indonesia atau sekitar 19 juta jiwa. Kondisi tersebut akan menimbulkan berbagai perubahan pada masalah kesehatan baik fisik maupun mental pada populasi ini.


Golongan lansia dapat mengalami berbagai gangguan mental seperti pada kelompok usia yang lebih muda. Untuk mengidentifikasi masalah mental yang muncul pada lansia perlu dilakukan pengkajian. Pengkajian keperawatan merupakan tahap awal yang menentukan langkah berikutnya untuk menentukan diagnosa keperawatan dan perencanaan.
Pengkajian keperawatan pada klien psikogeriatri merupakan proses yang komplek. Pengaruh aspek biologik, psikologik, dan sosiokultural akibat proses penuaan menyebabkan kesulitan dalam mengidentifikasi masalah yang muncul. Pengkajian status mental merupakan pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data tentang fungsi psikososial.
Pengkajian ini meliputi : Penampilan umum klien, kesadaran, Fungsi afektif, Karakteristik bicara, orientasi, perhatian dan konsentrasi, penilaian, memori, persepsi, serta isi dan proses pikir. Pengkajian ini bertujuan untuk menentukan pikiran – pikiran dan proses mental yang mempengaruhi pada pencapaian tingkat optimal dari fungsi lansia. Pengkajian ini terintegrasi dalam wawancara dan pemeriksaan fisik.

II. TINJAUAN TEORI

PENGKAJIAN STATUS MENTAL LANSIA

PENAMPILAN UMUM

Penampilan umum dapat memberikan gambaran mengenai fungsi psikologik. Penampilan umum meliputi : Penampilan fisik, koordinasi gerakan, ekspresi muka dan postur tubuh. Penampilan fisik meliputi : cara berpakaian, cara berdandan, perawatan dan kebersihan diri.
Observasi yang dapat dilakukan untuk mengkaji penampilan umum :
  1. Apakah penampilan fisik klien menandakan adanya gangguan fungsi psikologik ?
  2. Apakah gaya berjalan, postur tubuh dan ekspresi muka menandakan adanya gangguan psikologik ?
  3. Apakah ada tanda – tanda tardive dyskineksia atau efek yang kurang baik akibat medikasi ?
Tabel 1 Penampilan umum berhubungan dengan fungsi psikologik
TANDA
KETERANGAN
Penampilan fisik Penampilan fisik : pakaian compang – camping, tidak rapi, kau badan tidak sedap dapat dihubungkan dengan adanya depresi, tetapi perlu dikaji faktor lain seperti : adanya inkontinensia, kemampuan kognitif, kondisi keuangan, gangguan pengelihatan/ penciuman, dan kemampuan melakukan perawatan diri.
Postur tubuh Postur tubuh yang bukuk dapat menandakan adanya depresi
Koordinasi gerak : gaya berjalan Gaya berjalan yang tidak terkoordinasi atau tardive dyskineksia dapat diakibatkan oleh efek pengobatan psikotropika
Gaya berjalan dengan lambaian tangan seolah – olah tubuh lemah dengan kepala ditekuk dapat menandakan adanya depresi dan menarik diri.
Ekspresi muka Ekspresi muka dengan kontak mata ynag kurang dapat menandakan adanya depresi.

KESADARAN

Kesadaran adalah kemampuan individu untuk mengadakan hubungan dengan lingkungannya serta dengan diri sendiri ( melalui panca indra ). Bila kesadaran baik ( tidak menurun ) maka kemampuan orientasi seperti waktu, tempat dan orang akan baik serta dapat mengolah informasi yang masuk secara efektif ( melalui daya ingat dan pertimbangan ). Dalam menilai tingkat kesadaran perlu dipertimbangkan :
  1. Pengaruh medikasi
  2. Gangguan afektif
  3. Kondisi patologik
Tabel 2 Beberapa tingkatan penurunan kesadaran
Tingkat kesadaran
KETERANGAN
Apati Keadaan mengantuk dan acuh tak acuh terhadap rangsang yang masuk, diperlukan rangsang yang lebih keras dari biasanya untuk menarik perhatiannya.
Somnolen Keadaan sangat mengantuk, diperlukan rangsang yang lebih keras dari biasanya untuk menarik perhatiannya.
Sopor Hanya bereaksi dengan rangsang yang keras , ingatan , orientasi dan pertimbangan sudah hilang
Koma Tidak ada lagi respon terhadap rangsang yang keras sekalipun.
Observasi yang dapat dilakukan untuk mengkaji tingkat kesadaran :
  1. Apakah tingkat kesadaran klien saat ini ?
  2. Apakah ada fluktuasi pada tingkat kesadaran klien . Jika ada apakah ada pola tertentu ?
  3. Apakah ada faktor fisik yang mempengaruhi tingkat kesadaran, misal : pengaruh medikasi, kondisi patologik, dan gangguan afektif ?
  4. Apakah ada faktor psikososial yang mempengaruhi tingkat kesadaran misal : cemas, depresi, atau gangguan tidur ?

FUNGSI AFEKTIF

Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji fungsi afektif pada lansia yaitu :
  1. Penting untuk mengkaji arti dari suatu kejadian bagi lansia dengan mengkaji kedalaman dan lamanya afek yang ditampilkan
  2. Ekspresi emosi dipengaruhi oleh budaya dan karakteristik personal
  3. Pada lansia biasanya tidak mengekspresikan perasaannya secara langsung/ verbal. Oleh karena iti penting untuk mengobservasi adanya reaksi tidak langsung/ non verbal dari lansia.
  4. Penting untuk menggunakan istilah – istilah yang dapat diterima oleh lansia pada saat wawancara dengan berfokus pada perasaan yang dirasakan oleh lansia. Dapat diawali dengan menggunakan open ended question misalnya : bagaimana kabarnya hari ini ?
Tabel 3 Temuan – temuan pada Fungsi afektif
AFEK
KETERANGAN
Afek tidak serasi Respon emosional yang tidak sesuai dengan pikiran, pembicaraan
Afek tumpul Respon emosional yang sangat kurang
Afek ambivalen Dua jenis perasaan yang berlawanan terhadap suatu objek yang timbul pada saat yang bersamaan
Euforia Kegembiraan berlebihan tidak sesuai dengan realitas
Depresi Perasaan sedih, murung, susah. depresi sering disertai dengan gejala somatik : pusing, konstipasi, nyeri perut, nyeri otot, nafsu makan berkurang dan insomnia.
Anxietas Kecemasan, kekawatiran, was – was, takut. Sering disertai dengan gejala somatik : ketegangan motorik ( gemetar, tegang, nyeri otot, mudah kaget, gelisah ) dan hiperaktivitas saraf otonomik ( berkeringat , telapak tangan lembab, jantung berdebar cepat, mulut kering, pusing, kesemutan, rasa mual, sering kencing, dan rasa tidak enak di ulu hati )
Observasi yang dapat dilakukan untuk mengkaji fungsi afektif :
  1. Bagaimana perasaan klien saat ini ?
  2. Apakah indikator yang menggambarkan mood/ rasa cemas / depresi pada klien ?
  3. Apakah ada faktor –faktor dibawah ini yang mengakibatkan cemas pada klien seperti : kondisi patologik, pengobatan atau intervensi yang berpengaruh pada sistem saraf pusat ?
  4. Cara yang dilakukan oleh klien untuk mengatasi perasaannya yang tidak seperti biasanya ?
  5. Apakah ada hal yang ingin didiskusikan mengenai perasaaan klien ?
Gangguan fungsi afektif pada lansia yang sering terjadi adalah depresi. The Geriatric Depresion scale ( GDS ) adalah pengukurang yang valid dan reliabel untuk menentukan adanya depresi. Pemakaian GDS dapat memudahkan klien mengungkapkan sikap dan perasaan yang sulit diutarakan yang sebetulnya berkaitan dengan depresi.
Tabel 4 The Geriatric Depresion scale (Yesavage & brink, 1983 )
No
PERTANYAAN
JAWABAN
1
Apakah pada dasarnya anda puas dengan kehidupan anda ?
TIDAK
2
Sudahkah anda meninggalkan aktivitas dan minat anda ?
YA
3
Apakah anda merasa bahwa hidup anda kosong ?
YA
4
Apakah anda sering bosan ?
YA
5
Apakah anda mempunyai semangat setiap waktu ?
TIDAK
6
Apakah anda takut sesuatu akan terjadi pada anda ?
YA
7
Apakah anda merasa bahagia disetiap waktu ?
TIDAK
8
Apakah anda merasa jenuh ?
YA
9
Apakah anda lebih suka tinggal dirumah pada malam hari, dari pada pergi melakukan sesuatu yang baru ?
YA
10
Apakah anda merasa bahwa anda lebih banyak mengalami masalah dengan ingatan anda daripada yang lainnya ?
YA
11
Apakah anda berfikir sangat menyenangkan hidup sekarang ini ?
TIDAK
12
Apakah anda merasa tidak berguna saat ini ?
YA
13
Apakah anda merasa penuh berenergi saat ini ?
TIDAK
14
Apakah anda saat ini sudah tidak ada harapan lagi ?
YA
15
Apakah anda berfikir banyak orang yang lebih baik dari anda ?
YA
Keterangan : Nilai 1 poin untuk setiap respon yang cocok dengan jawaban ya dan tidak setelah pertanyaan.
NILAI 5 ATAU LEBIH DAPAT MENANDAKAN DEPRESI

KARAKTERISTIK BICARA

Karakteristik bicara meliputi : pemahaman , artikulasi, jeda, kualitas, kuantitas dan koheren. Faktor budaya dapat mempengaruhi karakteristik bicara.
Observasi untuk mengkaji karakteristik bicara :
  1. Apakah klien dapat menjawab sesuai dengan pertanyaan yang diajukan ?
  2. Apakah jeda bicara normal, lambat atau cepat ?
  3. Apakah nada suara menunjukan perasaan tertentu seperti marah, bermusuhan, sedih, putus asa, dll ?
  4. Apakah suara terdengar lembut atau keras ?
  5. Apakah adal kesulitan artikulasi ?
  6. Apakah kalimat – kalimat yang diucapkan lansia koheren ?
  7. Apakah terdapat faktor – faktor dibawah ini yang dapat berpengaruh terhadap karakteristik bicara seperti : mulut kering, ompong, adanya efek medikasi atau alcohol ?
  8. Apakah ada tanda – tanda agnosia, pengulangan kata atau aphasia ?

ORIENTASI

Orientasi meliputi orientasi terhadap tempat, orang dan waktu.
Wawancara untuk mengkaji orientasi klien :
  1. Orang : Siapakah nama anda, Siapakah nama anak anda ? Siapakah nama istri/ suami anda ?, dll
  2. Waktu : Jam berapa sekarang ? , Kapan waktu anda makan pagi ? Hari apa sekarang ? , Bualan apa sekarang ? , dll
  3. Tempat : Dimanakan saudara saat ini ? , Dimanakah alamat saudara ? Apa nama kota ini ? , Apakah nama tempat ini ? dll.

PERHATIAN DAN KONSENTRASI

Perawat harus mengobservasi dan mencatat respon yang ditampilkan oleh lansia pada saat pengkajian , yaitupada saat menjawab pertanyaan.
Observasi untuk mengkaji perhatian dan konsentrasi :
  1. Bagaimana tingkah laku klien saat wawancara ?
  2. Apakah klien bersemangat dalam menjawab pertanyaan ?
  3. Jika tidak menjawab pertanyaan atau jawaban yang diberikan salah apakah karena tidak mampu, factor cultural atau kurang motivasi ?
  4. Apakah ada tanda – tanda marah, bermusuhan, sedih, putus asa, dll ?

PENILAIAN

Penilaian merupakan kemampuan menilai suatu situasi secara benar dengan berbuat sesuai dengan situasi yang ada.
Observasi dan wawancara yang dapat dilakukan untuk mengkaji penilaian klien :
  1. Apakah klien berpakaian dan berdandan sesuai dengan situasi ?
  2. Apakah klien mengetahui cara mencari pertolongan jika membutuhkan bantuan ?

MEMORI

Memori meliputi memori baru, memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Gangguan memori dapat mengidentifikasikan adanya gangguan intelektual/ kognitif. The Short Portable Mental Status Quesionnaire ( SPMQ ) digunakan untuk mendeteksi tingkat gangguan intelektual.
Tabel 5. The Short Portable Mental Status Quesionnaire ( SPMQ )

No
PERTANYAAN
JAWABAN
BETUL
SALAH
1 Tanggal berapa hari ini ?


2 Hari apakah hari ini ?


3 Apakah nama tempat ini ?


4 Berapa no. telepon rumah anda ?


5 Berapa usia anda ?


6 Kapan anda lahir ( Tgl/Bln/ Thn ) ?


7 Siapakah nama presiden sekarang ?


8 Siapakah nama presiden sebelumnya ?


9 Siapakah nama ibu anda ?


10 5 + 6 adalah ?


Keterangan :
Jumlah kesalahan :
  1. 0 – 2 kesalahan : Baik
  2. 2 – 4 kesalahan : Gangguan ringan
  3. 5 – 7 kesalahan : Gangguan sedang
  4. 7 – 10 kesalahan : Gangguan berat

PERSEPSI

Persepsi adalah daya mengenal benda, kualitas, hubungan dan perbedaan melalui proses mengamati, mengetahui dan mengartikan setelah panca indranya mendapatkan rangsang.
Tabel 3 Temuan – temuan pada Gangguan persepsi
Persepsi
Keterangan
Halusinasi Persepsi panca indra tanpa objek/rangsang sensorik. Jenis : Visual, Akustik, olfaktorik, gustatorik, dan taktil
Ilusi Persepsi / interpretasi yang salah terhadap suatu rangsang sensorik.
Pada lansia gangguan persepsi biasanya berhubungan dengan demensia, depresi dan delirium.
Beberapa alasan pengkajian gangguan persepsi pada lansi sulit dilakukan adalah :
  1. Klien berusaha mennyembunyikan adanya gangguan persepsi ?
  2. Jika gangguan persepsi muncul akibat isolasi sosial, pengkajian sulit dilakukan
  3. Diperlukan pengamatan yang jeli
  4. Pengaruh latar belakang budaya

ISI DAN PROSES PIKIR

Proses pikir dapat dikaji pada saat dilakukan wawancara.
Tabel 3 Temuan – temuan pada Proses pikir
PROSES PIKIR
KETERANGAN
Inkoherensi Arus pikiran kacau, pikiran/ kata – kata tanpa hubungan logis, atau tidak mengikuti aturan tata bahasa.
Asosiasi pikiran longgar Pokok pikiran satu pindah ke pokok pikiran lain tanpa hubungan yang jelas/ relevan.
Waham/ Delusi Isi pikiran yang salah, tidak sesuai dengan realitas yang diyakini dan tidak dapat dikoreksi dengan akal sehat. Contoh : waham kebesaran, paranoid, nihilistik
Obsesi Pikiran yang terus menerus mendesak dalam kesadaran dan tidak dapat dihilangkan dengan cara yang logis, klien menyadari hal tersebut tidak wajar , berkaitan dengan kecemasan.
Fobia Ketakutan irasional terhadap suatu objek atau situasi dan berusaha menghindarinya. Klien sadar akan kondisi tersebut.

III. PENUTUP

Pengkajian status mental pada lansia merupakan proses yang komplek yang membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik dan pertimbangan sosio kultural. Perawat harus dapat memberikan lingkungan yang nyaman saat wawancara dan mengatasi hambatan dalam berkomunikasi dengan lansia .
Dengan memeperhatikan prinsip – prinsip dan cara – cara yang efektif untuk berkomunikasi dengan lansia diharapkan akan mengurangi kendala – kendala dan hambatan – hambatan dalam komunikasi dengan lansia sehingga dapat melakukan intervensi keperawatan yang dapat untuk memenuhi kebutuhan lansia.

REFERENSI

  1. Jeri B. Brown. Nancy K. Bedford, Sarah S. White. (1999). Gerontological Protocols for Nurse Practitioners. Lippincott, Philadelphia.
  2. Miller, C.A. (1995). Nursing care of olders adults : Theory and practice. Philadelpia : JB Lippincott. Lippincott, Philadelphia
  3. Staab,A.,S., & Hodges,l.,C.,(1996 ) Gerontological Nursing: Adaptation to the aging process
  4. Matteson, M.A. and Mc. Connel, E.S. (1988). Gerontological Nursing : Concepts and practice. Philadelpia : WB Saunders Company.
  5. Sheila L. Molony, Cristine M, Waszynski, Courtney H Leyder. (1999). Gerontological Nursing. Appleton & Lange. Conecticut.
  6. Stuart, G.W and Sundeen, S.J, 1995. principles and practice of psychiatric nursing, St. Louis, Mosby Year Book.
  7. Beck, CM, Rawlins and Williams, S.R, 1996, Mental health psychiatric nursing: A Holistic life-Cycle approach, St Louis, Mosby Co.